Jum’at, 07 Agustus 2015 22:27:52
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Malang (beritajatim.com) – Tim identifikasi dan olah TKP Reserse Kriminal Polres Malang, tiba di rumah Abdullah, Jumat (7/8/2015) dini hari. Rumah yang menjadi lokasi pembunuhan istri dan anak oleh suaminya itu, berada di Desa Argosari, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang.
Usai berkumpul di Polsek Jabung, tiga mobil petugas menuju lokasi pembunuhan yang berjarak, kurang dari 3 kilometer. Memasuki kampung, suasana sunyi senyap. Seluruh rumah warga tertutup rapat.
Nyaris tidak ada satupun warga yang keluar. Suasana desa tempat Abdullah tinggal, seperti kampung mati. Tiba di lokasi kejadian, ada 4 warga yang terlihat duduk santai. Persis di samping mereka, terlintas garis polisi pada sebuah rumah dengan lampu penerangan cukup benderang.
“Ini lampu baru dibuat setelah peristiwa. Kalau sebelumnya, rumah Abdullah cukup gelap,” kata Kanit Reskrim Polsek Jabung, Aiptu Sugianto, Jumat (7/8/2015) dini hari.
Untuk mengurai kesan suram, warga desa langsung memasang cukup banyak lampu di setiap sudut rumah yang menjadi lokasi pembunuhan. Rumah itu cukup besar. Warga sejak pertama kejadian, berinisiatif menjaga persis di samping pagar rumah dengan cara begadang semalam suntuk.
“Kasihan. Padahal bu Wiwik dan anaknya, orang yang sangat baik. Kami tidak tega melihat korban diperlakukan suaminya seperti itu,” ucap salah seorang warga.
Kepala Reskrim Polres Malang, AKP Wahyu Hidayat memimpin langsung olah TKP guna proses pemeriksaan lanjutan. Hal itu dilakukan sebelum garis polisi yang dipasang, akan dibuka mulai besok siang.
“Kita lakukan olah TKP lagi sebelum garis polisi dibuka besok. Dan ternyata, banyak kita temukan ceceran darah di beberapa dinding kamar,” papar Wahyu.
Proses itu diambil petugas untuk melengkapi berkas pemeriksaan dan penyidikan. Namun, memasuki rumah dengan noda darah yang meluber diruang tengah, bukan perkara mudah. Bulu kuduk pun merinding seketika. Pasalnya, sejak kejadian pembunuhan Selasa lalu, rumah itu tidak boleh dijamah siapapun. Steril.
Kondisi rumah, memancarkan aura gaib. Sepanjang proses identifikasi, bau anyir darah menyengat cukup kuat. Kemanapun kaki melangkah, hawa pengab dan panas, menyergap petugas saat olah TKP berlangsung.
Seluruh sudut rumah yang cukup besar itu diteliti. Tak hanya bau anyir darah, aroma tak sedap dan bau harum, bergantian menyerang hidung. Tugas Kepolisian memastikan tempat kejadian perkara dalam kondisi seperti itu sudah lumrah.
Butuh nyali besar memang. Namun, bekerja dan mendeteksi titik-titik baru sebagai bukti dalam persidangan nantinya, sangatlah penting.
Usai memeriksa bagian dapur dan pisau, petugas menemukan satu drum besar di dalam bak kamar mandi. Di dalam drum itu, terdapat cairan pembersih lantai yang diduga diminum Abdullah usai membunuh istri dan anaknya. Drum itu diambil. Diperiksa. Dibawa sebagai bukti tambahan Polisi. Identifikasi berlanjut ke kamar tengah, ruang tamu, kamar tidur dan ruang sholat berukuran kecil.
Beritajatim.com melihat, ada bekas noda hitam pada setiap dinding rumah. Itu diperkirakan dari sambaran api saat pelaku, membakar korban dan bagian kamar tidur. Beberapa foto dalam pigura mendiang anak korban dan ibunya, masih tergantung pada dinding. Hanya ada bekas sisa plastik pigura yang meleleh.
Yang menarik, Beritajatim sempat mengamati kertas putih di atas meja. Dalam kertas itu, tergambar wajah kepala seseorang perempuan. Cukup aneh memang. Dalam kertas itu, juga terdapat nama enam orang. Salah satunya adalah nama Putri Sari Devi, korban pembunuhan.
Di atas nama-nama tersebut, ada tulisan kelompok seni. Sementara di bawah kotak daftar nama-nama, terlukis gambar seperti pohon. Sedang di bawah pohon persis, ada gambar bejana. Diduga, kertas itu dibuat Putri sebelum ia tewas dibunuh ayah kandungnya sendiri. Semacam kerja tugas kelompok karena Putri, baru saja diterima sebagai siswa baru di SMA.
Selama dalam ruang tengah, bau anyir darah membuat kepala pening. Maklum, sejak peristiwa tersebut, darah segar masih memenuhi ruang tengah dan belum bisa dibersihkan. Darah itu bercampur dengan sisa baju yang terbakar. C
ukup banyak ceceran darah menempel di dinding. Meja. Hingga almari es. Beberapa kelambu kamar, juga terpecik noda darah. Polisi bahkan menemukan sisa darah di bawah kolong meja. Tempat Abdullah menyembunyikan pedang sebagai barang bukti pembunuhan.
"Ini tolong difoto. Disini pelaku membuang pedang usai membunuh korban," kata Kasatreskrim Polres Malang.
Petugas kemudian meneliti sisa darah cukup banyak di lantai ruang tengah. Di tempat ini, beberapa serpihan tubuh korban nampak lengket dilantai. Sisa darah juga tercecer di tempat salat. "Setelah olah TKP terakhir ini selesai, garis polisi langsung kita buka," papar Mantan Kasatreskrim Polres Tuban itu.
Sejak pembunuhan menggemparkan warga Desa Argosari, masyarakat pun bergantian menjaga dan mengirim doa secara rutin. Warga dengan sukarela setiap malamnya, rela menunggu rumah dengan cara begadang di samping rumah. Ada kopi dan makanan ringan.
"Kasihan. Korban ibu dan anak adalah warga yang sangat baik di kampung kami," tutur Ali.
Di mata warga, sehari-hari istri Abdullah, Wiwik Halimah berjualan rujak. Ia dianggap warga seorang perempuan pekerja keras yang sukses menopang ekonomi keluarganya. Wiwik, menjadi tulang punggung keluarga. Hal itu karena pelaku, sudah lama jadi pengangguran.
"Seluruh warga mengutuk perbuatan Abdullah. Ia seharusnya berterima kasih karena mempunyai istri dan anak yang sangat baik. Kami berharap ia dihukum berat dan memperoleh balasan setimpal," tandas warga. [yog/but]

No comments:
Post a Comment